﷽
📘 Kitab Al-Bahrur Raa’iq fi Az-Zuhd war-Raqaa’iq karya Syaikh Dr. Ahmad Farid
Ustadz Ahmad Bazher hafizhahullahu ta’ala
🗓️ Sabtu Pagi, 6 Rajab 1447 H
🗓️ 27 Desember 2025
🕘 Pukul 09.00 WIB
📍 Masjid Al-Aziz, Jl. Soekarno Hatta No. 662 – Bandung
Sebab-sebab yang menjadikan hati berpenyakit, hati manusia bisa sehat dan bisa sakit sebagaimana hati itu juga bisa hidup dan bisa mati, penyakit hati akan memisahkan seseorang dari Allah dan negeri akhirat sehingga jauh lebih berbahaya dari kematian, maka menjaga kesehatan hati jauh lebih penting dari menjaga kesehatan jasmani, walaupun menjaga kesehatan jasmani juga penting untuk dapat beribadah dengan baik.
Penyakit hati ini dapat menular sebagaimana penyakit dapat menular dengan ijin Allah, sebab-sebab:
1) Kesyirikan kepada Allah.
Siapapun yang melakukan kesyirikan kepada Allah maka hatinya tidak akan pernah bersih. bahkan Allah sifati pelakukanya lebih rendah dari binatang ternak.
QS. Al-Furqan (25): 44
أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Ataukah engkau mengira bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami? Mereka tidak lain hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya.
Menyamakan selain Allah dengan Allah dalam hak-hak kekhususan Allah, ada 3 Hak kekhususan Allah :
1. Dalam perbuatan Allah (Rububiyah), contohnya : menciptakan, mematikan, memberikan rizki.
2. Dalam perbuatan mahluk ketika menyembah dan beribadah kepada Allah (Uluhiyah), contohnya : menyembelih, tawakal, istighosah, istianah.
3. Dalam nama-nama dan sifat Allah yang maha sempurna, contohnya : Allah maha pengasih (Ar Rahman), Allah maha penyayang (Ar Rahim).
2) Perbuatan maksiat dan dosa.
Perbuatan maksiat dan dosa akan menimbulkan penyakit hati, baik dosa-dosa kecil maupun dosa-dosa besar. QS. Al-‘Ankabut (29): 40
فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنبِهِۦ ۖ فَمِنْهُم مَّنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَخَذَتْهُ ٱلصَّيْحَةُ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ خَسَفْنَا بِهِ ٱلْأَرْضَ ۖ وَمِنْهُم مَّنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ ٱللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَـٰكِن كَانُوٓا۟ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Maka masing-masing (kaum) Kami siksa karena dosanya; di antara mereka ada yang Kami kirimkan hujan batu, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang Kami tenggelamkan. Allah tidaklah menzalimi mereka, tetapi merekalah yang menzalimi diri mereka sendiri.
Para ulama mengatakan bahwa pelaku dosa sejatinya sedang mendzolimi dirinya sendiri, maka hendaknya berusaha untuk menghindari dosa-dosa tersebut. Sesungguhnya satu maksiat akan mengundang maksiat yang lain.
Hadist dari Abdullah bin Mas‘ud radhiyallahu ‘anhu, dan dinilai hasan oleh para ulama. (Diriwayatkan juga oleh Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi dengan lafaz yang mirip)
إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّمَا مَثَلُ ذَلِكَ كَمَثَلِ قَوْمٍ نَزَلُوا بِبَطْنِ وَادٍ، فَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، وَجَاءَ ذَا بِعُودٍ، حَتَّى أَنْضَجُوا خُبْزَهُمْ، وَإِنَّ مُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ إِذَا أُخِذَ بِهَا صَاحِبُهَا أَهْلَكَتْهُ
Hati-hatilah kalian dari dosa-dosa kecil yang diremehkan. Perumpamaannya seperti suatu kaum yang singgah di lembah; yang satu datang membawa sebatang kayu, yang lain membawa sebatang kayu, hingga mereka dapat memanggang roti mereka. Sesungguhnya dosa-dosa kecil itu, bila diambil (dipertanggungjawabkan) pada pelakunya, akan membinasakannya.
Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu
إِنَّكُمْ لَتَعْمَلُونَ أَعْمَالًا هِيَ أَدَقُّ فِي أَعْيُنِكُمْ مِنَ الشَّعْرِ، إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّهَا عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنَ الْمُوبِقَاتِ
Sesungguhnya kalian melakukan amalan-amalan yang menurut pandangan kalian lebih tipis (lebih ringan) daripada rambut, padahal pada masa Rasulullah ﷺ kami menganggapnya termasuk dosa-dosa yang membinasakan. (HR Bukhari)
Fawaid ulama :
"Janganlah engkau melihat kecilnya dosa, tetapi lihatlah kepada siapa engkau bermaksiat."
3) Lalai dari berdzikir mengingat Allah.
Ucapan Ibnul Qayyim rahimahullah
ذِكْرُ اللَّهِ دَوَاءٌ، وَذِكْرُ النَّاسِ دَاءٌ
Mengingat Allah adalah obat, sedangkan mengingat manusia adalah penyakit.
QS. Al-Anbiyā’ (21): 97
وَٱقْتَرَبَ ٱلْوَعْدُ ٱلْحَقُّ فَإِذَا هِىَ شَٰخِصَةٌ أَبْصَٰرُ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ۚ يَٰوَيْلَنَا قَدْ كُنَّا فِى غَفْلَةٍ مِّنْ هَٰذَا بَلْ كُنَّا ظَٰلِمِينَ
Dan telah dekat janji yang benar. Maka tiba-tiba terbelalaklah mata orang-orang kafir (seraya berkata), “Celakalah kami, sungguh kami dahulu lalai tentang ini, bahkan kami adalah orang-orang zalim.”
احْفَظِ اللَّهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللَّهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، تَعَرَّفْ إِلَى اللَّهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ
Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya engkau dapati Dia di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu lapang, niscaya Dia akan mengenalimu di waktu sempit.
4) Berpaling dari ilmu agama Allah dan sunnah Rasulullah.
Banyak sekali manusia jaman ini lebih pintar ilmu dunia namun bodoh dalam urusan agama.
QS. Thāhā (20): 124–126
وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُهُۥ يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ أَعْمَىٰ ﴿١٢٤﴾
قَالَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِىٓ أَعْمَىٰ وَقَدْ كُنتُ بَصِيرًا ﴿١٢٥﴾
قَالَ كَذَٰلِكَ أَتَتْكَ ءَايَٰتُنَا فَنَسِيتَهَا ۖ وَكَذَٰلِكَ ٱلْيَوْمَ تُنسَىٰ ﴿١٢٦﴾
Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh baginya kehidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.
Dia berkata, “Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkanku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?”
Allah berfirman, “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, lalu engkau melupakannya; dan demikian pula pada hari ini engkau dilupakan.”
5) Sibuk dengan urusan dunia sehingga mencintainya berlebihan.
Ketika seseorang telah tersibukkan dengan urusan dunia maka akan melupakan dirinya dari hal yang lebih penting dari urusan agamanya.
QS. Al-A‘rāf (7): 175–176
وَٱتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ٱلَّذِىٓ ءَاتَيْنَٰهُ ءَايَٰتِنَا فَٱنسَلَخَ مِنْهَا فَأَتْبَعَهُ ٱلشَّيْطَٰنُ فَكَانَ مِنَ ٱلْغَاوِينَ ﴿١٧٥﴾
وَلَوْ شِئْنَا لَرَفَعْنَٰهُ بِهَا وَلَٰكِنَّهُۥٓ أَخْلَدَ إِلَى ٱلْأَرْضِ وَٱتَّبَعَ هَوَىٰهُ ۚ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ ٱلْكَلْبِ إِن تَحْمِلْ عَلَيْهِ يَلْهَثْ أَوْ تَتْرُكْهُ يَلْهَث ۚ ذَّٰلِكَ مَثَلُ ٱلْقَوْمِ ٱلَّذِينَ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَٰتِنَا ۚ فَٱقْصُصِ ٱلْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ ﴿١٧٦﴾
Dan bacakanlah kepada mereka kisah orang yang telah Kami berikan kepadanya ayat-ayat Kami, lalu dia melepaskan diri darinya; maka setan mengikutinya, lalu jadilah dia termasuk orang-orang yang sesat.
Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami angkat derajatnya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti hawa nafsunya. Maka perumpamaannya seperti anjing; jika kamu menghalaunya dia terengah-engah, dan jika kamu membiarkannya dia tetap terengah-engah. Itulah perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir.
Pendapat para ulama ayat diatas terkait dengan Bal‘am bin Bā‘ūrā’ umatnya nabi Nabi Musa عليه السلام.
Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan lebih mendahulukan hawa nafsunya.
Ketika cinta dunia ini berlebihan maka akan melupakan tugas utamanya diciptakan didunia ini.
Maka pentingnya seseorang untuk mengaji ilmu syari'at.
وَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ، وَلَكِنْ أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ، فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا، فَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
Demi Allah, bukan kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut dunia dibentangkan untuk kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mengejarnya sebagaimana mereka berlomba-lomba, sehingga ia membinasakan kalian sebagaimana ia telah membinasakan mereka.
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Barakallahu fiikum
Jazakumullahu khair.